




“PERBANYAKLAH MENGINGAT KEMATIAN”
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ
“Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan” (HR. An Nasai no. 1824, Tirmidzi no. 2307 dan Ibnu Majah no. 4258 dan Ahmad 2: 292. Hadits ini hasan shahih menurut Syaikh Al Albani). Yang dimaksud adalah kematian. Kematian disebut haadzim (pemutus) karena ia menjadi pemutus kelezatan dunia.1
Kematian adalah sesuatu yang pasti akan terjadi pada diri setiap insan, oleh karena itu sebaik-baik manusia adalah selalu mengingat kematian dengan pempersiapkan dirinya dengan berbagai macam amal ibadah yang ditujukan ikhlas semata karena Allah Azza wa Jalla, salah satunya adalah Ibadah Sholat 5 waktu yang lebih utama ditunaikan oleh setiap muslim dan muslimah, karena sholat adalah perkara yang pertama kali akan di hisab pada hari kiamat nanti.
Seorang muslim dan muslimah sejati selayaknya selalu mempersiapkan dirinya untuk menuju alam keabadian, bekali diri dengan ilmu Tauhid, ilmu Al-Qur’an, ilmu hadits, ilmu Fiqih, ilmu alat (Bahasa Arab), upgrade Iman, jangan lemah dan malas beribadah, bila perlu semakin ditingkatkan, selalu ingat dan menjalankan Rukun Iman dan Rukun Islam, Cinta Allah dan Rasul-Nya melebihi cinta pada apapun di muka bumi ini. Menjalankan perintah-Nya dan selalu berusaha menjauhi segala larangan-Nya.
Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 102 sebagai berikut:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam).2
Dalam sebuah hadits Nabi yang menjelaskan tentang kematian, berikut ini;
عَنِ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ : كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم-
ثُمَّ قَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ : « أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا ». قَالَ فَأَىُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ : « أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعدَادًا أُولَئِكَ الأَكْيَاسُ ».
Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata, “Aku pernah bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu seorang Anshor mendatangi beliau, ia memberi salam dan bertanya, “Wahai Rasulullah, mukmin manakah yang paling baik?” Beliau bersabda, “Yang paling baik akhlaknya.” “Lalu mukmin manakah yang paling cerdas?”, ia kembali bertanya. Beliau bersabda, “Yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya, itulah mereka yang paling cerdas.” (HR. Ibnu Majah no. 4259. Hasan kata Syaikh Al Albani).3
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;
.أكثِروا ذِكْرَ هاذمِ اللَّذَّاتِ فما ذكَره عبدٌ قطُّ وهو في ضيقٍ إلَّا وسَّعه عليه ولا ذكَره وهو في سَعةٍ إلَّا ضيَّقه عليه
“Sering-seringlah mengingat sesuatu yang akan menghancurkan kenikmatan. Sebab, tidaklah seorang hamba mengingat sesuatu itu ketika dalam kondisi terhimpit, melainkan sesuatu itu akan membuatnya merasa lapang. Tidaklah pula ia mengingat sesuatu itu ketika dalam kondisi lapang, melainkan sesuatu itu akan membuatnya merasa sempit. (Hadits Hasan riwayat Ibnu Hibban dalam shahihnya (no.2993). Dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Irwaa’ul Ghaliil (III/145).4Mukmin yang paling baik adalah mukmin yang paling baik akhlaknya dan mukmin yang paling cerdas adalah mukmin yang paling banyak mengingat kematian dan paling baik mempersiapkan dirinya untuk kehidupan selanjutnya.
Ciri-ciri mereka ada 11 poin:
1. Membekali diri dengan Tauhid dan Iman
2. Taubat dengan sungguh sungguh (Taubatan Nashuhaah)
3. Menuntut Ilmu Syar’iy untuk bekal kehidupan yang abadi
4. Melaksanakan amal ibadah dengan ilmu dan tidak buta ilmu syar’iy
5. Beribadah Ikhlas dan Itibba’
6. Tidak panjang angan-angan
7. Zuhud dan Tidak Cinta Dunia
8. Banyak bersyukur, tidak kufur nikmat dan hidup qana’ah
9. Menjaga Tali Silahturrahiim terutama dengan orangtua dan keluarga
10. Meninggalkan jejak kebaikan baik berupa ilmu,wakaf,karya, berwasiat tentang utang dan harta.
11. Taat kepada Allah, Rasul-Nya dan Ulil Amri>>>
>>>
>>>
Ditulis oleh: Ummi_Laina Mokodongan
At Bekasi-City, Indonesia, 21 Shafar 1448 H (05 Agustus 2026 M)ARTIKEL & DESIGN BY:
WWW.AZZAHROTUN.COM

Sumber Rujukan/Referensi/Maroji’:
- https://rumaysho.com/2822-kematian-yang-kembali-menyadarkan-kita.html ↩︎
- Referensi: https://tafsirweb.com/37100-surat-ali-imran-lengkap.html ↩︎
- https://rumaysho.com/2822-kematian-yang-kembali-menyadarkan-kita.html ↩︎
- “احكام الجنائز” Kitab AHKAAMUL JANAA’IZ (Panduan Lengkap Mengurus Jenazah Berdasarkan Al-Qur’an & As-Sunnah), Kompilasi 3 Ulama: (Syaikh bin Baaz, Syaikh Al-Abani, Syaikh Al-‘Utsaimin, hal.379-380, Penerbit: Media Tarbiyah – Bogor. ↩︎