
ARTIKEL SEDERHANA
“RUMAH TANGGA YANG INDAH”
Penulis: Ummi_Laina Mokodongan
Bekasi_City: Jumadil Awwal 1446 H (13/November/2024 )
“RUMAH TANGGA YANG INDAH”
Rumah tangga yang indah itu, dibangun diatas pondasi ILMU TAUHID yang kuat, sehingga tidak mudah goyah dan runtuh. Kekuatan dasar sebuah bangunan berada di pondasi utamanya, di analogikan bahwa pondasinya atau dasarnya adalah ilmu tauhid. Setiap insan mendambakan kebahagiaan dalam berumah tangga setelah melaksanakan akad nikah dimana sudah terucap janji suci antara kedua mempelai wanita dan pria. Setelah terjadinya Ijab dan Qobul, maka langkah selanjutnya adalah menjalani bahtera rumah tangganya, suka dan duka di awal pernikahan antara laki-laki dan wanita adalah pemanis dalam perjalanan cinta mereka, penuh perjuangan hidup dalam menggapai kebahagiaan.
Setelah sekian tahun berumah tangga, kemudian kedua pasangan tersebut memiliki keturunan, lahirlah si buah hati yang menjadi penyemangat hidup antara keduannya. Inilah awal dari sebuah perjuangan hidup, mereka sangat yakin bahwa Allah Azza wa Jalla Maha Pemberi rezeki, Maha berkuasa dilangit dan bumi, Maha Mengatur seluruh alam semesta termasuk manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya. Kedua pasangan tersebut ridho dengan taqdir-Nya, bahwa mereka dipertemukan dalam satu ikatan pernikahan karena Allah Azza wa Jalla memberikan jodoh yang terbaik, dimana manusia harus bersyukur kepada-Nya dan bukan sebaliknya kufur nikmat.
Dengan dasar pemahaman dan keyakinan Ilmu Tauhid yang kuat, dimulai dari Tauhid Rububiyyah yaitu mengenal Rabb Semesta Alam, Yang menciptakan semua makhluk di langit dan muka bumi ini, alam semesta beserta isinya dari yang tiada kemudian ada, Allah Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan, mengatur alam semesta , mengatur turunnya air hujan ke muka bumi, hidupnya tumbuh-tumbuhan dan menghasilkan buah-buahan yang berlimpah, memberikan rezeki kepada manusia dan sebagainya.
Kemudian implementasi dari Tauhid Rububiyyah ke Tauhid Uluhiyyah adalah yang berkaitan dengan ibadah dan menyembah hanya kepada-Nya. Manusia yang sudah hidup berpasang-pasangan, karena Allah Azza wa Jalla menciptakan manusia dari jenis laki-laki dan perempuan, kemudian menjodohkannya dalam ikatan pernikahan, memiliki keturunan, maka sangat tidak pantas jika manusia tidak bersyukur kepada-Nya melalui ibadah, misalnya tidak menyembah kepada Allah Azza wa Jalla semata, bahkan mempersekutukan Allah Ta’ala dalam ibadah.
Pokok utama yang harus dan wajib ditunaikan oleh manusia adalah beribadah hanya kepada Allah Ta’ala semata, tidak berbuat syirik, beriman bahwa Allah itu Maha Esa (satu,tunggal), berdoa, nadzar, berkurban, ditujukan hanya kepada Allah semata secara ikhlas dan tidak menduakan-Nya. Meminta pertolongan dan perlindungan, hanya kepada-Nya. Dan setelah mengimplementasikan tauhid rububiyyah dan uluhiyyah, maka selanjutnya mentauhidkan Allah Ta’ala dalam asma wa shifat (nama-nama dan sifat Allah). Disini Allah tidak serupa atau setara atau sebanding dengan Makhluk ciptaan-Nya. Allah Al-Ahad dan Ash-Shamad, Allah satu/tunggal, Allah tempat bergantung segala sesuatu.
Penerapan Tauhid dalam rumah tangga wajib, karena akan berpengaruh pada rumah tangganya bahagia atau tidak. Manusia akan tersesat jalannya jika tidak memiliki Tauhid yang benar, karena pasti bingung kemana tempat untuk bersandar. Jika bersandar pada sebuah pohon, maka akan mudah tumbang dan roboh, jika bersandar pada manusia, maka tidak memberikan jaminan untuk selamat sampai tujuan, jika bersandar pada sebuah gunung, maka ketika gunung berapi meletus, otomatis manusia akan kenak dampaknya, yang membahayakan jiwa dan raga. Bersandarlah hanya kepada Allah Azza wa Jalla semata, beribadahlah hanya kepada-Nya, jangan mempersekutukan-Nya dengan segala sesuatu. Meminta pertolongan dan perlindungan kepada-Nya, tidak menyerupakan-Nya dengan makhluk ciptaan-Nya.
Wallahu’alam…