
MUSIBAH GEMPA BUMI ATAS IJIN ALLAH TA’ALA
TAFSIR SURAH AT-TAGHABUN:11
مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ ٱللَّهِ ۗ وَمَن يُؤْمِنۢ بِٱللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُۥ ۚ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌ
(Maa aṣaaba mim muṣhiibatin illaa biiżnillaah,wa may yu’mim billaahi yahdi qalbah, wallaahu bikulli syai`in ‘aliim)
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”
Makna dari Surah tersebut menurut para ulama ahli Tafsir:
1.Dikutip dari Tafsir Al-Muyassar / Kementerian Agama Saudi Arabia, bahwa:
“11. Seseorang tidaklah ditimpa sesuatu yang tidak diinginkannya kecuali dengan izin Allah, ketetapan, dan takdirNYa. Barangsiapa beriman kepada Allah, niscaya Allah membimbing hatinya untuk menerima perintahNya dan rela kepada keputusanNYa, Allah membimbingnya kepada keadaan, perkataan dan perbuatan terbaik, sebab dasar hidayah adalah hati, sementara anggota badan adalah pengikut. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu, tidak ada sedikit pun yang samar bagiNya.“
2.Dikutip dari Tafsir Ringkas Kementrian Agama RI / Surat At-Taghabun Ayat 11, bahwa:
“Allah tidak hanya menciptakan makhluk, tetapi juga mengatur seluruh makhluk. Tidak ada sesuatu musibah yang menimpa seseorang dalam kehidupan ini, kecuali dengan izin Allah, karena Allah mengetahui dan mengatur kehidupan ini; dan barang siapa beriman kepada Allah dengan istiqamah, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada hatinya dengan memantapkan imannya. Dan Allah maha mengetahui segala sesuatu yang terjadi di jagat raya maupun yang terjadi di jagat kecil, sanubari manusia.”
3. Dikutip dari Tafsir As Sa’di Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, pakar tafsir abad 14 H, bahwa:
“11. Allah berfirman, “Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah.” Ini berlaku secara umum untuk berbagai musibah yang menimpa diri, harta, anak, orang-orang tercinta, dan lainnya. Semua yang menimpa manusia berdasarkan Qadha dan Qadar Allah. Allah telah mengetahui hal itu sebelumnya, penaNya telah menulis semua takdir dan ketentuan. Dengan pena itu, kehendak dan hikmahNya berlaku. Namun yang amat penting adalah apakah manusia menunaikan tugasnya dalam hal Qadha dan Qadar ataukah tidak? Jika ia menunaikannya, maka ia akan mendapatkan pahala yang besar dan indah, baik di dunia maupun di akhirat. Jika percaya bahwa semua yang menimpanya berasal dari sisi Allah, merelakannya, dan menyerahkan masalahnya, maka Allah akan menunjukkan hatinya sehingga ia akan merasa tenang dan tidak gentar ketika tertimpa berbagai musibah, tidak seperti yang terjadi pada orang yang hatinya tidak diberi petunjuk oleh Allah. Allah memberikan keteguhan pada orang yang hatinya diberi petunjuk ketika musibah datang serta bersikap sabar. Dengan demikian, ia mendapatkan pahala besar di samping pahala besar yang disimpan Allah pada hari Pembalasan kelak. Ini sejalan dengan Firman Allah, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” -Az-Zumar:10
Dari sini dapat diketahui, bahwa orang yang tidak beriman kepada Allah pada saat tertimpa musibah karena tidak memahami takdir dan ketentuan Allah namun hanya terbatas pada sebab-sebabnya saja, maka ia telah dihinakan, dan Allah-pun menyerahkan urusannya itu pada dirinya sendiri. Apabila seseorang hamba telah diserahkan pada dirinya sendiri padahal jiwa manusia itu hanya bisa berkeluh kesah dan bersedih, maka hal itu merupakan siksaan yang disegerakan bagi seorang hamba sebelum siksaan akhirat nanti karena tidak menunaikan kewajiban bersabar. Inilah yang berkaitan dengan Firman Allah, “Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya,” yakni ketika tertimpa musibah. Adapun yang berkaitan dengan keumuman tekstual ayat, Allah memberitahukan bahwa setiap orang yang beriman (maksudnya, dengan keimanan sesuai yang diperintahkan yaitu beriman kepada Allah, malaikat, kitab, rasul, Hari Akhir, dan takdir, baik dan buruknya) dan membuktikan kebenaran imannya dengan menunaikan tuntutan-tuntutan serta kewajiban-kewajiban iman, faktor yang dilakukan oleh seorang hamba seperti ini merupakan faktor terbesar hidayah Allah dalam perkataan, perbuatan, dan di segala halnya, dan juga dalam ilmu dan amalnya. Ini adalah balasan terbaik yang diberikan Allah bagi orang-orang yang beriman. Sebagaimana yang disebutkan dalam Firman Allah ketika memberitahukan bahwa Dia meneguhkan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan di akhirat. Asal mula keteguhan adalah keteguhan hati, kesabaran, dan keyakinannya ketika tertimpa berbagai musibah. Firman Allah yang dimaksud adalah, “Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat;” -Ibrahim:27-
Orang yang beriman adalah orang yang hatinya mendapatkan hidayah dan paling kuat ketika tertimpa berbagai musibah yang merisaukan. Hal itu dikarenakan keimanan yang tertanam pada diri mereka.
Jika ayat tersebut diatas dikaitkan dengan musibah di alam semesta ini maka peristiwa seperti gempa bumi, tanah longsor, banjir bandang, tsunami itu terjadi biidznillah (atas ijin Allah Subhanahu wa Ta’ala) sebagai peringatan dan ujian bagi kaum muslimin dan adzab bagi non muslim (kaum kafir) sehingga mereka orang Islam segera bertaubatan Nasuhah, dan yang non muslim bisa menjadi mu’allaf (masuk Islam). Inilah sebenarnya salah satu kemurkaan Allah dilangit dan bumi sehingga musibah diturunkan oleh-Nya agar manusia kembali kepada Syari’at-Nya (aturan hukum-Nya) yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah bukan menggunakan hukum buatan manusia sehingga manusia sangat jauh dari jalan kebenaran serta jalan yang lurus lagi terang benderang.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman dalam surat An-Nuur ayat 63 yang artinya sebagai berikut:
“….Maka hendaklah (berhati-hati) orang-orang yang menyalahi perintah Rasulullah, takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih”
Maksudnya hendaknya mereka takut jika hatinya ditimpa fitnah kekufuran, nifaq, bid’ah, kemaksiatan, siksa pedih didunia seperti musibah gempa bumi, tsunami, tanah longsor, banjir bandang, gunung meletus dan sebagainya. Dengan mentaati Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam maka hamba tersebut mendapatkan kecintaan dari Allah Ta’ala dan diampuni dosa-dosanya.
Al Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menerangkan: “Menyalahi perintah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam , yaitu menyalahi jalan hidup beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, menyalahi manhaj (cara beragama), Sunnah, dan Syari’at beliau. Maka seluruh perkataan dan seluruh amal, harus ditimbang dengan perkataan dan perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Apa yang sesuai dengan perkataan dan perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam maka akan diterima oleh Allah, dan apa yang tidak sesuai dengan perkataan dan perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam maka akan ditolak oleh Allah Ta’ala. Siapapun yang melakukan perkataan dan perbuatan itu serta apapun perkataan dan perbuatan itu. Meskipun ia seorang ulama, atau seorang ‘alim, jika perkataan dan perbuatannya menyelisihi perkataan dan perbuatan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, maka ia wajib ditolak berdasarkan hadits, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
من عمل عملا ليس عليه أمرنافهو رد
“Barangsiapa yang beramal tanpa adanya tuntunan dari kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR.Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Ibnu Majah dari Aisyah Radhiyallahu’anha)
Hendaknya berhati-hati orang yang menyelisihi syari’at Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam secara lahir dan batin,…….” [Tafsir Ibnu Katsir ( VI/89-0)].*
KESIMPULAN
Intinya dalam Surat At-Taghabun ayat 11 tersebut diatas, seluruh manusia yang ada di muka bumi ini jangan mengundang kemurkaan Allah Ta’ala, agar Allah tidak menurunkan adzabnya seperti yang pernah terjadi di zaman Nabi Nuh ‘alaihissalam (kaum fasik), nabi Luth ‘alaihissalam ( kaum yang melampaui batas, kaum Tsamud (kaum yang disambar petir), kaum ‘Ad (kaum yang dikirimkan angin yang membinasakan), Fir’aun beserta balatentaranya yang ditenggelamkan oleh Allah Azza wa Jalla kedalam laut, karena kedzoliman dan kesombongannya. Jika manusia tetap melawan Syariat Allah dan Rasul-Nya, maka tidak salah lagi Allah menurunkan adzabnya bagi kaum yang ingkar dan melampaui batas.
Inilah gambaran umat menjelang akhir zaman, banyak melanggar perintah-Nya dan tidak mau menjauhi larangan-Nya, tidak suka dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, bahkan iman semakin melemah dan berujung murtad, kesyirikan merajalela, orang-orang lebih suka meminta nasehat kepada dukun atau paranormal, atau guru spiritual sebagai life style, dan tidak suka mendengar nasehat ulama yang mumpuni dibidangnya, jauh dari menuntut ilmu-ilmu agama sehingga buta terhadap hukum-hukum Islam, tidak memahami mana yang halal dan haram, munculnya para pemimpin yang kurang peka terhadap kesusahan hidup dan ekonomi rakyatnya, rakyat kecil masih banyak yang susah makan alias kelaparan akibat dampak dari politik yang semakin semraut dan tidak jelas arahnya kemana, sehingga pemurtadan muncul disetiap tempat yang kondisinya mendukung. Pelaku kebid’ahan bermunculan dimana-mana serta kemaksiatan yang sulit dibendung bermunculan disetiap waktu dan tempat.
Dan solusinya adalah kembali kepada Allah dan Rasul-Nya, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, Syahadatain (mengucapkan dua kalimat syahadat) bagi yang murtad dari Islam atau yang mu’allaf, Pemimpin yang peduli terhadap nasib rakyat kecilnya, memberikan fasilitas yang memadai untuk tempat tinggal bagi yang terdampak akibat gempa bumi, tanah longsor, banjir bandang dan gunung meletus, serta pembangunan infrastruktur kembali akibat bencana alam, membuka lapangan kerja untuk meminimalisir banyaknya pengangguran dimana-mana. Jika bisa terlaksana dengan baik maka negeri ini akan berhasil menunjukan kepada negeri lainnya keberhasilan atas keridha’an-Nya. Dan Allah Subhanahu wa Ta’ala sangat mencintai hamba-hamba yang ikhlas dan mau mendekat kepada-Nya.
Wallahu’alam,
Ditulis oleh : Ummi Laina
Bekasi City, Rabi’ul Akhir 1444 H/ 23 November 2022 M
Rujukan:
Al-Qur’anul Kariim
*Syarah Rukun Islam (Jilid 1, Syahadatain), karya Ust.Yazid bin Abdul Qadir Jawas, hal.188-190
https://tafsirweb.com/37302-surat-at-taghabun.html