
“ALLAH MENGANGKAT ILMU DENGAN MEWAFATKAN ULAMA”
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Bersabda;
ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠﻪ ﻻ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺍﻧْﺘِﺰَﺍﻋَﺎً ﻳَﻨْﺘَﺰِﻋُﻪُ ﻣﻦ ﺍﻟﻌِﺒﺎﺩِ ﻭﻟَﻜِﻦْ ﻳَﻘْﺒِﺾُ ﺍﻟﻌِﻠْﻢَ ﺑِﻘَﺒْﺾِ ﺍﻟﻌُﻠَﻤَﺎﺀِ
حَتَّى ﺇِذَا ﻟَﻢْ ﻳُﺒْﻖِ ﻋَﺎﻟِﻢٌ ﺍﺗَّﺨَﺬَ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺭﺅﺳَﺎً ﺟُﻬَّﺎﻻً ، ﻓَﺴُﺌِﻠﻮﺍ ﻓَﺄَﻓْﺘَﻮْﺍ ﺑِﻐَﻴْﺮِ ﻋِﻠْﻢٍ ﻓَﻀَﻠُّﻮﺍ ﻭَﺃَﺿَﻠُّﻮﺍ
“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mengangkat ilmu dengan sekali cabutan dari para hamba-Nya, akan tetapi Allah mengangkat ilmu dengan mewafatkan para ulama. Ketika tidak tersisa lagi seorang ulama pun, manusia merujuk kepada orang-orang bodoh. Mereka bertanya, maka mereka (orang-orang bodoh) itu berfatwa tanpa ilmu. mereka sesat dan menyesatkan.“1
An-Nawawi rahimahullah menjelaskan,
ﻫﺬﺍ ﺍﻟﺤﺪﻳﺚ ﻳﺒﻴﻦ ﺃﻥ ﺍﻟﻤﺮﺍﺩ ﺑﻘﺒﺾ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻓﻲ ﺍﻷﺣﺎﺩﻳﺚ ﺍﻟﺴﺎﺑﻘﺔ ﺍﻟﻤﻄﻠﻘﺔ ﻟﻴﺲ ﻫﻮ ﻣﺤﻮﻩ ﻣﻦ ﺻﺪﻭﺭ ﺣﻔﺎﻇﻪ ، ﻭﻟﻜﻦ ﻣﻌﻨﺎﻩ ﺃﻧﻪ ﻳﻤﻮﺕ ﺣﻤﻠﺘﻪ ، ﻭﻳﺘﺨﺬ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﺟﻬﺎﻻ ﻳﺤﻜﻤﻮﻥ ﺑﺠﻬﺎﻻﺗﻬﻢ ﻓﻴﻀﻠﻮﻥ ﻭﻳﻀﻠﻮﻥ
“Hadits ini menjelaskan bahwa maksud diangkatnya ilmu yaitu sebagaimana pada hadits-hadits sebelumnya secara mutlak. Bukanlah menghapuskannya dari dada para penghafalnya, akan tetapi maknanya adalah wafatnya para pemilik ilmu tersebut. Manusia kemudian menjadikan orang-orang bodoh untuk memutuskan hukum sesuatu dengan kebodohan mereka. Akhirnya mereka pun sesat dan menyesatkan orang lain”.2
Kemudian pada hadits lainnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Bersabda;
ﻣﻦ ﺃﺷﺮﺍﻁ ﺍﻟﺴﺎﻋﺔ ﺃﻥ ﻳُﺮْﻓَﻊَ ﺍﻟﻌﻠﻢ، ﻭﻳَﺜْﺒُﺖَ ﺍﻟﺠﻬﻞُ
“Termasuk tanda-tanda hari kiamat adalah diangkatnya ilmu dan tetapnya kebodohan.“3
Dan Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا يَخْشَى ٱللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ ٱلْعُلَمَٰٓؤُا۟ ۗ
Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama.[Fathir : 28]
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassallam dalam sabdanya,
مَوْتُ الْعَالِمِ مُصِيبَةٌ لا تُجْبَرُ ، وَثُلْمَةٌ لا تُسَدُّ , وَنَجْمٌ طُمِسَ ، مَوْتُ قَبِيلَةٍ أَيْسَرُ مِنْ مَوْتِ عَالِمٍ
“Meninggalnya ulama adalah musibah yang tak tergantikan, dan sebuah kebocoran yang tak bisa ditambal. Wafatnya ulama laksana bintang yang padam. Meninggalnya satu suku lebih ringan daripada meninggalnya satu orang ulama.”4
Dengan diwafatkannya Ulama oleh Allah Ta’ala ini menunjukan bahwa ilmu diangkat oleh Allah Ta’ala, semakin banyak bermunculan orang-orang bodoh yang berfatwa tanpa ilmu, kebodohan semakin merajalela, kiamat semakin dekat, semakin berkurang orang-orang yang berilmu menyampaikan firman Allah dan sabda Nabi Muhammad, sedangkan Ulama adalah penerus para Nabi dalam menyampaikan ilmu-ilmu agama, Ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah satu persatu makin berkurang jumlahnya, sedangkan kita yang di tinggalkan terkhusus para Tholibul Ilmi terus mempelajari banyak ilmu-ilmu agama lagi kepada asatidz yang mumpuni dibidangnya, agar masih bisa memberikan pencerahan kepada masyarakat awwam tentang bagaimana seharusnya seorang muslim dan muslimah semasa hidupnya supaya tidak jauh dari menuntut ilmu syar’iy sebagai bekal pulang ke akherat kelak.
Perjalanan hidup manusia itu sudah tertulis semua nya di dalam kitab Lauhul Mahfudz, kitab yang menjelaskan tentang taqdir manusia baik atau pun buruk. Kehidupan manusia di alam dunia ini sebelum berada di alam barzakh dan alam akherat, penuh dengan ujian-ujian kehidupan, karena dunia ini adalah negri ujian yang datangnya dari Allah Ta’ala, tinggal bagaimana manusia menghadapi ujian-ujian yang diberikan-Nya, apakah sanggup menjalani dengan kesabaran ataukah tidak. Apabila manusia sanggup menjalani hidup ini dengan kesabaran maka selamatlah Dia hingga tujuan akhirnya yaitu mendapatkan surga Allah Azza wa Jalla. Aamiin Yaa Rabbal’alamiin
Wallahu’alam Bishshowwab
>>>
>>>
>>>
Ditulis di Bekasi_City oleh: Ummi_Laina Mokodongan (Tholibul Ilmi)
(08 Muharrom 1446 H/14 Juli 2024)
ARTIKEL DAN DESIGN BY: AZZAHROTUN.COM
- [1] HR.Bukhari
- [2] Syarah Nawawi lishahih Muslim 16/223-224
- [3] HR.Bukhari
- [4] HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir dan Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman dari Abu Darda
- Sumber: https://muslim.or.id/34692-ilmu-dicabut-dengan-wafatnya-ulama.html Copyright © 2024 muslim.or.id