
TAFSIR SURAH AL-‘ASHR (3 AYAT-MAKKIYAH) SURAH KE-103
1. Surah Al-Ashr Ayat 1-3 Beserta Artinya
2. Kandungan Surah Al-Ashr
3. Makna Ayat 1-3 Surah Al-Ashr
4. Faedah
1. Surah Al-Ashr Ayat 1-3 Beserta Artinya
وَٱلْعَصْرِ
إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ لَفِى خُسْرٍ
إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّٰلِحَٰتِ
وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ
Demi masa
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh
dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran
dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.
2. Kandungan Surah Al-Ashr
Surah Al-Ashr ini merupakan surah yang ke 103 di dalam Al-Qur’an yang terdiri dari 3 ayat dan tergolong Surah Makkiyah. Al-Ashr artinya “Masa” atau “Waktu”.
Imam Syafi’iy berkata, tentang makna kandungan dari surah Al-Ashr di dalam Tafsir Ibnu Katsir 8/456:
لو تد بر الناس هذه السورة لوسعتهم
(Lau tadabbarannaas hadzihissuurata lawasi’athum)
“Seandainya orang-orang men-tadabburi Surah Al-Ashr ini, surah ini akan mencukupi bagi mereka.”
3. Makna Ayat 1-3 Surah Al-Ashr
Para ulama berbeda pendapat tentang makna Al-Ashr, sebagai berikut:
1. Sebagian ulama memahami Al-Ashr itu adalah waktu ashar yaitu sejak masuknya waktu ashar dan berakhir ketika panjang bayangan seseorang dua kali panjang tubuhnya, (terdapat dalam hadits Jibril).
2. Sebagian ulama lain berpendapat bahwa alasan Allah bersumpah dengan waktu Ashr adalah ingin menunjukkan bahwa manusia itu tidak akan selamanya kuat dan sehat sebagaimana waktu muda, suatu waktu manusia akan menjadi lemah dan sakit dan akhirnya meninggal dunia. Diibaratkan seperti waktu di mulai ashr ketika matahari mulai meredup sinarnya ke bumi hingga menghilang dan tenggelam sinarnya berganti malam hari.
3. Jumhur ulama (mayoritas ulama) berpendapat bahwa Al-Ashr itu bermakna “Masa” atau zaman/waktu secara umum. Allah bersumpah dengannya karena masa adalah tempat manusia beramal (ketika manusia mendapatkan keberuntungan atau kerugian). Manusia akan mendapatkan keberuntungan jika beramal shaleh, beriman, saling menasihati dalam kebaikan serta kesabaran. Sebaliknya manusia akan mendapatkan kerugian jika lalai dari tidak mengerjakan amal shaleh, tidak mau beriman, dan tidak menasihati dalam kebaikan serta kesabaran.*
Dikutip dari Tafsir as-Sa’di / Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa’di, pakar tafsir abad 14 H, tentang makna Surah Al-‘Ashr ayat 1 – 3 :**
1-3. Allah bersumpah dengan masa, yaitu malam dan siang sehingga tempat terjadinya perbuatan-perbuatan manusia, bahwa manusia itu rugi. Orang yang rugi adalah kebalikan orang yang beruntung. Tingkatan orang yang rugi bermacam-macam;
ada yang rugi secara mutlak seperti kondisi orang yang rugi di dunia dan akhirat. Ia tidak mendapatkan kenikmatan dan berhak mendapatkan Neraka Jahim.
Ada yang rugi di sebagian sisi saja. Karena itu Allah menyebutkan kerugian untuk setiap manusia secara umum kecuali orang yang memiliki empat sifat:
~ Iman terhadap apa yang diperintahkan Allah dengan beriman kepadaNya. Dan iman tidak ada tanpa adanya ilmu. Ilmu adalah bagian dari iman yang tanpanya keimanan menjadi tidak sempurna.
~ Amal shalih. Dan ini mencakup seluruh perbuatan baik, zahir maupun batin, yang berkaitan dengan hak-hak Allah dan hak-hak hambaNya, yang wajib dan yang dianjurkan.
~ saling menasehati dengan kebenaran yang merupakan iman dan amal shalih, yakni sebagian orang menasihati sebagian yang lain dengan kebenaran, mendorong, dan menganjurkannya.
~ Saling menasihati dengan kesabaran adalah dalam ketaatan terhadap Allah, bersabar menjauhi maksiat, dan bersabar atas ketentuan-ketentuan Allah yang menyakitkan.
Dengan dua hal pertama, seseorang menyempurnakan dirinya sendiri dan dengan dua hal kedua, seseorang menyempurnakan orang lain dan dengan melengkapi keempat hal tersebut, seseorang terhindar dari kerugian dan mendapatkan keuntungan besar.
4. Faedah
Dikutip dari Tafsir Juz ‘Amma buah karya Syaikh Abdullah Al-Khayyath, tentang faedah yang bisa di ambil dari makna surah Al-Ashr sebagai berikut:***
1. Penjelasan bahwa semua manusia berada dalam kerugian kecuali orang-orang yang memiliki keempat sifat yang disebutkan dalam surat ini.
2. Saling memberi nasehat dan memberi wasiat dengan kebenaran termasuk penyempurna iman.
3. Seorang mukmin haruslah bersabar untuk taat kepada Allah, bersabar dari maksiat kepada Allah, dan bersabar terhadap takdir Allah yang menyakitkan serta hendaknya ia berwasiat dengan hal tersebut kepada orang lain.
KESIMPULAN PENULIS (UMMI LAINA)
Al-Insan yang bermakna manusia secara umum dalam ayat kedua adalah makhluk ciptaan Allah Azza wa Jalla baik itu yang beriman maupun kafir semuanya berada dalam kerugian, akan tetapi pada penjelasan ayat tersebut diatas pada surah Al-Ashr ayat ketiga ada pembatasan Al-Insan (manusia) itu dengan pengecualian yaitu empat jenis manusia saja yang beruntung (tidak merugi) yaitu mereka yang beriman dan beramal shaleh, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.
- Manusia Yang Beriman
- Manusia Yang Beramal Shaleh
- Manusia Yang saling Menasihati dalam Kebenaran
- Manusia Yang saling Menasihati dalam Kesabaran
1. Manusia Yang Beriman
Iman adalah keyakinan terhadap perkara yang ghaib, dan iman juga mencakup seluruh perkara dalam syari’at. Pembahasan tentang keimanan ini berkaitan dengan sesuatu yang tidak nampak atau perkara yang ghaib (secara khusus), seperti yang terdapat dalam rukun iman yang 6 semuanya membahas tentang hal yang ghaib. Dengan adanya keimanan ini yang akan membedakan antara orang beriman (mukmin) dengan orang kafir (tidak beriman). Manusia yang beriman adalah mereka yang mampu menerapkan RUKUN IMAN yang terdiri dari 6 secara menyeluruh/sempurna dengan cara yang benar sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah. Barangsiapa yang mengingkari salah satu dari rukun iman ini, maka ia telah kafir. Dalam sebuah hadits masyhur, riwayat Imam Muslim dari Umar bin Khaththab bahwasanya malaikat Jibril pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang Iman, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjawab:
“Iman itu adalah engkau ‘Beriman kepada Allah’, dan ‘Malaikat-malaikat-Nya, dan ‘Kitab-kitab-Nya’, dan ‘Rasul-Rasul-Nya’, dan ‘Hari Akhir’ serta ‘beriman kepada Qadar yang baik maupun buruk.’ ” (HR. Muslim no.8, Abu Dawud no.4695, at-Tirmidzi no.2610, an-Nasa’i VIII/97, Ibnu Majah no.63, Derajat Hadits: Shahih)****
Kemudian pada hadits lainnya Nabi bersabda:
“Iman itu ada 70 sekian cabang: yang paling tinggi adalah kalimat Laa ilaha illallah; yang paling rendah adalah menghilangkan gangguan dari jalan; dan rasa malu merupakan bagian dari iman” (HR.Muslim no.51)
Hal ini menunjukkan bahwa Iman itu cakupannya sangat luas, makin banyak cabang keimanan seseorang maka makin tinggi keimanannya, sebaliknya semakin sedikit keimanan maka semakin kurang dan rendah keimanannya.
2. Manusia Yang Beramal Shaleh
Amal shaleh adalah bagian dari iman. Para ulama menyimpulkan bahwa amal shaleh itu harus memenuhi 2 syarat yaitu dikerjakan ikhlas karena Allah Ta’ala semata dan sesuai Sunnah Nabi. Jika sebuah amalan shaleh dikerjakan tidak ikhlas karena Allah dan sesuai sunnah nabi maka amalan tersebut akan tertolak (tidak di terima oleh Allah Azza wa Jalla).
3. Manusia Yang saling Menasihati dalam Kebenaran
Manusia yang masuk dalam kategori ini adalah mereka yang ber-ammar ma’ruf nahi munkar, dan ini merupakan bagian dari beramal shaleh. Setiap jiwa manusia yang muslim dan mukmin hendaknya mereka beramal shaleh dengan melakukan ammar ma’ruf nahi munkar yaitu saling menasihati saudaranya jika terjatuh pada sebuah kesalahan, kekeliruan wajib mengingatkannya atau menegurnya supaya kembali ke jalan yang benar, mengajaknya untuk berbuat kebaikan sebagai jalan keselamatan. Allah Ta’ala Berfirman:
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ ۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali ‘Imran: 104)
Kemudian Ayat berikutnya masih dalam surah Ali ‘Imran Allah Ta’ala berfirman:
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًا لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”(QS. Ali ‘Imran: 110)
4. Manusia Yang saling Menasihati dalam Kesabaran
Dan manusia yang masuk dalam kategori ini adalah mereka yang sudah melewati 3 hal tersebut diatas yaitu: beriman, beramal shaleh dan saling menasihati dalam kebenaran, maka pada posisi keempat ini manusia tersebut saling menasihati dalam kesabaran. Allah Ta’ala berfirman:
يَٰبُنَىَّ أَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ وَأْمُرْ بِٱلْمَعْرُوفِ وَٱنْهَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَٱصْبِرْ عَلَىٰ مَآ أَصَابَكَ ۖ إِنَّ ذَٰلِكَ مِنْ عَزْمِ ٱلْأُمُورِ
“Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS.Luqman:17)
Ketika manusia berada pada posisi ini yaitu berammar ma’ruf nahi munkar atau saling menasihati dalam kebenaran, kemudian saling menasihati dalam kesabaran setelah mengingatkan saudaranya atau menegur saudaranya ketika berbuat kesalahan maka disini wajib untuk bersabar seorang muslim dalam dakwahnya, karena mereka yang terjun dalam dunia dakwah atau medan dakwah tidaklah mudah, mereka harus siap dikritik, siap mendapatkan gangguan, siap sabar secara lahir dan batin, dan dibalik dari sebuah kesabaran itu Allah Ta’ala menjanjikan surga bagi orang-orang yang sabar, dan tentunya tidaklah mudah menjadi manusia-manusia yang SABAR, butuh proses yang lama menuju pada tingkat SABAR. Allah Ta’ala berfirman:
وَجَزَىٰهُم بِمَا صَبَرُوا۟ جَنَّةً وَحَرِيرًا
“Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera.” (QS.Al-Insan:12)
Para ulama membagi sabar menjadi 3 bagian:
1. Sabar dalam menjalankan ketaatan kepada Allah (butuh kekuatan dan kesabaran)
2. Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan (Meninggalkan Syahwat & hawa nafsu duniawi)
3. Sabar Ketika ditimpa musibah. (Kesabaran yang luar biasa, dan jaminannya surga Allah Ta’ala)
Itulah kesimpulan dari 4 jenis manusia yang beruntung (tidak merugi), dirangkum berdasarkan dalil Al-Qur’an dan As-Sunnah dan juga penjabaran pendapat para ulama, baik jumhur ulama maupun pendapat sebagian ulama lainnya. Ingatlah bahwa:
JALAN MENUJU JANNAH (SYURGA) BUTUH KESABARAN YANG LUAR BIASA
Wallahu’alam
Ditulis oleh: Ummi Laina Mokodongan
Bekasi_City, Sya’ban 1444 H / Maret 2023 M
ARTIKEL DAN DESIGN BY: AZZAHROTUN.COM
MAROJI’/SUMBER RUJUKAN
*Tafsir Juz ‘Amma, buah karya Dr. Firanda Andirja, Lc., MA., Penerbit; Aplikasi Halo Ustadz, hal.602-604.
**Referensi : https://tafsirweb.com/13016-surat-al-ashr-ayat-3.html
***Tafsir Juz ‘Amma, buah karya Syaikh Abdullah Al-Khayyath, Penerbit Griya Ilmu, hal.178.
****Syarah Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, buah karya Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, pustaka Imam Syafi’iy, hal.145.